Dasar Dasar Pengembangan Perumahan dan Permukiman di Indonesia

Dasar Dasar Pengembangan Perumahan dan Permukiman di Indonesia

Hak untuk hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan memiliki lingkungan yang baik dan sehat merupakan kebutuhan dasar manusia. Ini adalah fakta yang tak terbantahkan. Kepribadian bangsa yang merupakan ciri khas bangsa Indonesia secara keseluruhan, dengan identitas diri, kemandirian, dan produktivitas akan sangat terpengaruh apabila kesejahteraan fisik dan mental, kondisi kehidupan yang nyaman, dan keharmonisan lingkungan hidup yang sehat tidak terwujud. dalam proses pembangunan perumahan dan permukiman di Indonesia.

Hal ini tentu saja tidak mudah dilakukan. Banyak faktor yang mempengaruhi proses pembangunan perumahan / permukiman yang bisa dikatakan layak bagi masyarakat. Salah satunya adalah kemampuan masyarakat untuk membangun tempat tinggal dan hunian yang layak dan terjangkau dalam hunian yang sehat, aman, harmonis dan berkelanjutan.

Secara rinci apa yang harus diperhitungkan saat membangun perumahan dan desa:

1. Kesejahteraan
Kesejahteraan pada dasarnya adalah akhir dari keseluruhan proses membangun perumahan dan permukiman yang baik. Hal ini sengaja disoroti karena tujuan dari semua regulasi yang berkaitan dengan investasi dalam infrastruktur perumahan dan permukiman, baik yang dibangun oleh negara, dibangun oleh swasta, atau dibangun oleh masyarakat secara mandiri / mandiri, harus mengarah pada hal tersebut. Sasaran kesejahteraan adalah baik, sehat, tentram, damai dalam lingkungan keluarga dan sejahtera dalam rangka pencapaian hasil keuangan, kondisi fisik perumahan dan permukiman.

2. Keadilan dan ekuitas
Indonesia menduduki peringkat ke-15 di antara negara G20 tahun 2019. Apa saja negara G20 itu? Menurut Wikipedia, G-20 atau Kelompok 20 ekonomi terbesar adalah kelompok 19 ekonomi utama di dunia ditambah Uni Eropa. G-20 secara resmi disebut “Kelompok Dua Puluh” (G-20) dari menteri keuangan dan gubernur bank sentral atau “Kelompok dua puluh menteri keuangan dan gubernur bank sentral”. Kelompok ini dibentuk pada 1999 sebagai forum yang secara sistematis mempertemukan kekuatan ekonomi maju dan berkembang untuk membahas isu-isu penting ekonomi dunia. Pertemuan perdana G20 diadakan di Berlin pada tanggal 15-16 Desember 1999 dengan partisipasi dari menteri keuangan Jerman dan Kanada [1].
Prasyarat dibentuknya forum ini adalah krisis keuangan tahun 1998 dan pendapat yang muncul di forum G-7 bahwa pertemuan tersebut tidak efektif jika kekuatan ekonomi lain tidak ikut serta di dalamnya, sehingga keputusan mereka akan lebih berpengaruh dan mengambil keputusan. untuk kepentingan akun. yang tidak dapat dimasukkan ke dalam kelompok kecil ini. Kelompok ini mengumpulkan hampir 90% dari produk nasional bruto dunia (GNP, GNP), 80% dari total perdagangan dunia dan dua pertiga dari populasi dunia.
Namun, terlepas dari kenyataan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-15 dunia dan diproyeksikan akan menjadi penggerak ekonomi global dalam lima besar dalam 20 tahun ke depan, Indonesia menghadapi masalah tersendiri dalam distribusi kekayaan. Didik J. Rahbini, guru besar ekonomi, pendiri INDEF, pernah menulis bahwa di negara kita, satu persen orang menguasai dua pertiga tabungan dan penabung.
Keadilan ekonomi ini, jika dimasukkan ke dalam struktur perumahan dan permukiman, akan mencerminkan bagaimana zonasi yang adil harus terjadi antara perumahan kelas atas, perumahan menengah dan sederhana, unit perumahan kelas atas, unit perumahan menengah, dan unit perumahan sederhana. . Tidak hanya tentang zonasi, pemerataan dan pemerataan, hal ini juga perlu dilihat dari segi keterjangkauan, pelayanan infrastruktur dasar, dll.

3. Nasionalisme
Nasionalisme kurang lebih dapat diartikan sebagai posisi politik suatu bangsa. Bentuk unit rumah biasanya relatif mencerminkan sikap politik ini. Di Philadelphia, Pennsylvania, AS, terdapat sekelompok pendatang Indonesia yang tinggal berdekatan dan kemudian secara alami membentuk kelompok pemukiman yang disebut Kampung Surabaya. Meski berasal dari Indonesia, beberapa di antaranya sudah memiliki izin tinggal dan bekerja di Amerika Serikat, dan tentunya harus menghormati posisi politik pemerintah AS. Kita di Indonesia juga familiar dengan istilah Kampung Arab, Kampung Sina, Kampung Bugis, bukan? Hal ini dikarenakan adanya kecenderungan manusia sebagai makhluk sosial ingin membentuk kelompok hidup dengan makhluk sosial lain yang memiliki kesamaan pandangan, budaya, cara berpikir, bahasa, dll.

4. Efisiensi dan manfaat
Efisiensi adalah kata yang dapat digunakan untuk menggambarkan penggunaan sumber daya minimum untuk mencapai suatu tujuan. Terkadang efisiensi ini merupakan kebalikan dari efisiensi, karena alat yang efektif digunakan untuk mencapai suatu tujuan belum tentu alat yang efektif.

Apa yang perlu dikelola secara efektif untuk mendapatkan keuntungan dari perumahan atau pemukiman?
dan. Tanah
Ketersediaan lahan semakin terbatas karena kepadatan penduduk yang semakin meningkat. Jika tidak dikelola dengan baik, banyak lahan akan terbuang percuma, sedangkan sebaliknya banyak pemukim yang membutuhkan lahan untuk mengambil alih.
b. Teknologi
Di era teknologi industri 4.0 bahkan menuju teknologi industri 5.0, praktis tidak ada sisi kehidupan manusia yang tidak bersentuhan dengan teknologi. Penggunaan teknologi ini harus disaring dengan hati-hati, karena jika tidak, teknologi tersebut justru dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan, termasuk bangunan tempat tinggal dan permukiman.
c. air
70% permukaan bumi adalah air. Ketersediaan air sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Tanpa penggunaan air yang rasional, Bumi (termasuk rumah dan pemukiman) akan hancur dan punah.
d. Udara
Tanpa udara, orang tidak bisa bertindak. Tentunya kualitas udara yang baik sangat penting bagi masyarakat untuk dapat hidup dan menjalani kehidupan yang aktif di lingkungannya. Ada yang bilang kita tidak perlu hemat udara karena udaranya tidak terbatas. Mereka yang masih beranggapan demikian bisa mencermati fakta-fakta keadaan udara di beberapa negara selama setahun terakhir. Yang dimaksud dengan efisiensi penggunaan udara yang saya maksud bukan bagaimana menghemat udara, tetapi bagaimana mengolah / mengolah udara di bumi (dalam hal ini bagaimana cara merawat lingkungan hidup dan hidup kita) agar udara tetap bersih dan bermanfaat bagi paru-paru kita.

5. Ketersediaan dan kenyamanan
dan. Ketersediaan transportasi
Pertumbuhan wilayah sangat bergantung pada transportasi. Bisa dibayangkan keadaan sebuah desa jika diisolasi dari sistem transportasi kota, merepotkan bukan? Sulit kemana-mana jika ingin melakukan kunjungan penting, susah, bahkan bisa susah cari makan untuk penghuninya. Akibatnya harga barang akan naik dan daya beli masyarakat akan menurun. Oleh karena itu, aksesibilitas di sektor transportasi sangat mempengaruhi pertumbuhan kawasan atau satuan perumahan untuk perumahan dan permukiman.
b. Kemudahan pembiayaan
Banyak dari kita telah menemukan kemudahan pembiayaan yang ditawarkan oleh pengusaha real estat saat menjual kavling yang telah mereka bangun. Kemudahan pembiayaan menjadi salah satu faktor pertumbuhan wilayah, dimana warga dapat mengakses layanan perbankan dan non-perbankan dalam pembangunan rumah. Di kawasan pemukiman (non developer), pembiayaan perumahan dari pengusaha dan perbankan juga bisa dilaksanakan, namun ada satu bidang yang selalu diupayakan pemerintah yaitu pembiayaan pembangunan infrastruktur dasar.
c. Aksesibilitas sosiokultural
Dari sudut pandang permukiman modern, tentunya permukiman tersebut harus terbuka untuk semua adat dan budaya. Namun di beberapa daerah di Indonesia cukup sulit untuk menembus akses budaya ini. Sebutkan suku Badui (khususnya Badui Dalam) di Banten, Suku Samine di Bojonegoro, Suku Polahi di Gorontalo, Suku Anak Dalam di Jambi dan beberapa suku lainnya yang lebih memilih untuk hidup jauh dari kehidupan modern. Aksesibilitas budaya ke dan dari kawasan pemukiman mereka tentunya sangat ketat. Beberapa suku bahkan tidak memiliki pemukiman permanen dan terus berpindah-pindah, sehingga menyulitkan orang luar untuk bergabung.

6. Kemerdekaan dan persatuan
Kemandirian adalah posisi di mana Anda tidak ingin bergantung pada orang lain secara fisik, psikologis, finansial, dll. Kata kuncinya adalah kebebasan dan kemerdekaan. Dalam konteks perumahan dan permukiman diharapkan warga mampu berinisiatif dalam menata unit huniannya secara demokratis, dengan tetap memperhatikan kebutuhan dan solusi sumber daya yang terbatas. Apa manfaatnya? Dengan menjalankan kemandirian ini, warga akan dapat mengurangi ketergantungannya pada dana publik, sekaligus membangun kepercayaan diri terhadap kemampuan menciptakan lingkungan hidup dari sumber dayanya sendiri.

7. Kemitraan
Kemitraan tidak bisa dihindari karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Kemitraan dengan unit rumah lain mutlak diperlukan karena dalam sistem kota yang berkembang, unit rumah terhubung satu sama lain secara ekonomi, sosial dan budaya. Selain kemitraan antar unit hunian, kemitraan dengan pemerintah juga harus dibangun, tidak hanya karena kawasan permukiman dihuni oleh masyarakat yang mendiami negara, tetapi juga karena pendanaan infrastruktur di kawasan permukiman biasanya sangat bergantung pada kebijakan pemerintah. Kemitraan dengan pihak swasta dapat dijalin jika pihak swasta berkepentingan untuk berinteraksi dengan kawasan pemukiman yang terdekat dengan lokasi perusahaan, dan apabila masyarakat di permukiman tersebut terbuka untuk menerima kehadiran perusahaan di lingkungannya.

8. Harmoni dan keseimbangan
Kesesuaian dan kesesuaian adalah kesesuaian, kebenaran dan kesesuaian. Kepatuhan yang ingin dicapai:
1. Kesesuaian dengan desain tata ruang. Untuk apa? Karena suatu kawasan permukiman atau satuan hunian terkait langsung atau tidak dengan tata ruang kota / wilayah. Apabila suatu unit hunian terpisah berkembang secara mandiri, tanpa pengendalian dan tanpa memperhitungkan hunian lainnya, maka akan terjadi ketimpangan fungsi atau ketidakrataan tata ruang kota. Hal ini dapat menyebabkan kota menjadi timpang dan tidak dapat dikelola.
2. Keseimbangan ekologi juga perlu dijaga, karena ketidakseimbangan tersebut dapat menimbulkan bencana, yang tidak hanya dirasakan oleh penghuni permukiman, tetapi juga dapat mempengaruhi penghuni unit rumah lain di tempat lain.
3. Perlu juga diperhatikan tingkat pertumbuhan antar wilayah. Mendorong pertumbuhan suatu wilayah tertentu tanpa mengabaikan pertumbuhan wilayah lain akan menimbulkan ketimpangan dan ketimpangan. Hasilnya bisa bermacam-macam, misalnya kecenderungan migrasi penduduk (tidak terkendali), ketimpangan sosial hingga peningkatan sikap apatis, tingginya pengangguran, kriminalitas dan sejumlah dampak jangka panjang lainnya.

9. Kohesi
Integrasi kebijakan ke dalam perencanaan perumahan dan implementasi lokal akan menjadi faktor pendukung unit hunian atau kawasan hunian untuk tumbuh dan berkembang. Lokasi Kampung Beting di Pontianak, Kalimantan Barat adalah salah satu contohnya. Desa yang dulunya kumuh dan terkenal sebagai pusat peredaran narkoba ini dibangun dengan perencanaan matang yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat setempat. Dengan demikian, jelas terlihat bagaimana pemerintah dan masyarakat bahu membahu membangun desa yang berbeda dengan stigma negatif yang pernah dijatuhkan sebelumnya. Integrasi kebijakan lintas sektor juga tercermin dalam pembangunan ekonomi Kampung Beting. Bahkan Badan Nasional Anti Narkotika (BNN) yang dari segi tanggung jawab dan fungsinya mungkin sangat sedikit berkaitan dengan konsep perumahan dan permukiman yang turut andil dalam pembangunan Desa Betting. BNN melakukan sesuatu yang biasanya tidak terkait dengan namanya, yaitu mengembangkan kewirausahaan bagi masyarakat yang terpinggirkan. Dapatkah Anda melihat bagaimana integrasi terjadi antara perencanaan dan pelaksanaan, kemudian juga integrasi antara pemerintah (pusat dan daerah), serta integrasi antar instansi dalam pembangunan permukiman di wilayah ini?

10. Kesehatan
Dari segi kesehatan, ada dua hal yang perlu dikembangkan untuk mewujudkan lingkungan hidup yang sehat, yaitu kesehatan lingkungan dan kesehatan perilaku warga. Tak jarang kita melihat di kawasan pemukiman yang tertata rapi dengan infrastruktur yang lengkap, penghuninya tampak seperti penjahat kelas atas. Oleh karena itu, selain kesehatan fisik dan ekologis lingkungan, kesehatan mental dan perilaku penghuni juga harus diperhatikan. Kondisi sehat, bersih, aman dan nyaman juga perlu dibarengi dengan indeks kebahagiaan yang tinggi bagi penghuni unit. Sebagai perbandingan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencantumkan beberapa faktor di situs resminya yang mengukur keadaan lingkungan, yaitu AC, pengendalian bahan kimia, perubahan iklim, perumahan, sosial, air, sanitasi, dll. …

11. Keberlanjutan dan ketahanan
Bumi ini bukan milik generasi sekarang, tapi merupakan warisan dari generasi yang akan hidup setelah generasi sekarang. Pernahkah Anda mendengar kalimat ini? Kalimat ini biasanya digunakan untuk mendorong motivasi atau membawa visi masa depan Bumi lebih dekat ke masa kini. Dalam hal perumahan dan permukiman, menjaga lingkungan suatu permukiman tentunya menjadi tanggung jawab warga yang tinggal sekarang, sehingga generasi penerus yang akan menempati kawasan tersebut dapat menikmati fasilitas dengan kualitas yang sama atau bahkan lebih baik dari mereka. tersedia saat ini. waktu. Setiap warga negara memiliki tanggung jawab pribadi dan oleh karena itu konsep keberlanjutan dan ketahanan harus dijunjung tinggi. Lalu apa yang harus dilakukan? Prinsip perlindungan aset infrastruktur, kehati-hatian dalam perencanaan / pelaksanaan dan keseimbangan lokasi bangunan dan lingkungan harus diterapkan. Dengan cara ini, keamanan dan keberlanjutan kawasan hunian tersebut dapat tercapai.

12. Keselamatan, keamanan dan ketertiban
Keamanan warga dari bahaya bencana alam / gangguan satwa liar, bahaya wabah penyakit, bahaya paparan bahan kimia, keamanan finansial, politik dan psikologis serta ketertiban dalam kehidupan masyarakat merupakan faktor yang tidak kalah pentingnya bahkan sangat penting dalam pertumbuhan ruang hidup. Dengan memperhatikan keamanan dan ketertiban, penghuni akan menemukan kenyamanan dalam kehidupan masyarakat di suatu kawasan hunian.